Kamis, 16 Januari 2014

BPJS, yang MURAH tapi belum tentu AMAN



Baru kurang lebih 2 minggu atau 15 hari mulai diberlakukan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) atau  orang – orang lebih senang menyebut BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Ini mungkin menjadi angin semilir bagi para buruh yang pada masa sebelumnya ikut JAMSOSTEK (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) namun tidak diikutkan dalam jaminan kesehatan. Mengingat program JAMSOSTEK ini punya 4 item (jaminan kesehatan, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan kecelakaan kerja). Biasanya para pengusaha untuk menghindari potongan yang terlalu tinggi hanya mengikutkan dalam 3 program saja. Sehingga kesehatan para karyawan (buruh) tidak tercover dengan baik.
Lepas dari tuntutan para buruh, program pemerintah ini (JKN) menyisakan banyak masalah dan pro – kontra. Selain program ini belum jelas bagaimana sistem pembayarannya. Pergantian sistem dari ASKES ke JKN ini lebih rumit dalam prosedur pelaksanaannya. Banyak pihak medis yang berkeluh kesah atas diberlakukannya program ini. Sistem rujukan dan dokter keluarga serta panjangnya antrian saat mendaftar membuat bukan hanya para pekerja di dunia kesehatan namun juga pasien harus bekerja keras.
Pihak rumah sakit khususnya swasta, mengakali program ini dengan pembatasan bed untuk pasien dengan JKN. Sehingga masih ada bed untuk pasien umum yang membayar penuh. Tujuannya agar tetap ada perputaran uang dan menghindari rugi yang terlalu tinggi. Kondisi ini juga masih menyisakan banyak pertanyaan.perpindahan dari sistem lama dimana kita mengenal beberapa jaminan kesehatan milik pemerintah seperti ASKES, JAMKESMAS, JAMKESDA maupun JAMPERSAL untuk ibu hamil ke JKN dengan berbagai kebijakannya seolah memihak masyarakat. Namun dalam sisi lain juga memberatkan masyarakat. Dulu PNS yang ikut ASKES bila dirawat di RS seumpama jatah kamarnya kelas 2 lalu yang bersangkutan menginginkan naik ke kelas 1. Maka dia hanya cukup membayar sisa biaya dari total biaya yang di tanggung oleh ASKES. Namun sekarang, bila yang bersangkutan menghendaki naik kelas ke kelas 1, maka JKN nya dianggap tidak ada. Dia harus membayar penuh biaya kelas 1.
Dan untuk waktu dekat ini, sistem yang akan dirubah ke JKN adalah ASKES terlebih dahulu. Sehingga semua PNS akan memakai JKN. Untuk JKN pengganti JAMKESMAS dan sejenisnya masih dalam proses penyesuaian sistem. Sehingga mungkin untuk 3 bulan hingga waktu yang belum bisa ditentukan masyarakat tidak mampu yang dulu bisa gratis berobat ke PUSKESMAS bahkan sampai ke RS. Dari yang Cuma batuk pilek sampai dengan yang harus operasi, cuci darah bahkan kemoterapi. Sementara ini harus masuk sebagai pasien pribadi. Hal ini juga terjadi pada pasien JAMPERSAL, pasien – pasien dengan  kondisi hamil.
Sebelum tahun 2014 ini diberlakukan JAMPERSAL atau jaminan pelayanan ibu bersalin. Sama hal nya dengan nasib teman – teman nya yang lain dalam rangka penetapan JKN bagi seluruh rakyat Indonesia maka JAMPERSAL untuk sementara di hilangkan sampai sistem JKN berjalan seperti yang direncanakan. Malangnya ibu – ibu bersalin dengan biaya minimal namun harus mendapatkan pelayanan maksimal karena berkaitan dengan kondisi kesehatannya tidak dapat ditunda hingga sistem JKN ini siap. Dan kondisi ini nyatanya dialami oleh seorang ibu di kota Semarang.
Seorang ibu yang hamil dengan kondisi berisiko, pre – eklamsi ini harus mengalami ditolak beberapa RS dulu sebelum akhirnya ditolong di salah RS swasta dengan alasan kemanusiaan. Ya, pre-eklamsi adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (di atas 140/90mmHg) dan jumlah protein yang abnormal dalam urin (proteinuria) setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah yang normal. Penyebab pastinya tidak diketahui pada kebanyakan kasus pre-eklamsi tetapi faktor-faktor, seperti kehamilan ganda, diabetes dan obesitas diketahui meningkatkan resiko terkenanya kondisi ini sewaktu kehamilan. Ketika pre-eklamsi berkembang, hal ini dapat menimbulkan retensi cairan, menyebabkan pembengkakan kaki, pergelangan kaki dan wajah. Gejala, seperti sakit kepala yang berat, perubahan penglihatan dan muntah dapat timbul. Pre-eklamsi ringan biasanya diawasi secara hati-hati tanpa suatu pengobatan dan akan menghilang setelah melahirkan. Namun, wanita dengan pre-eklamsi sedang atau berat memerlukan persalinan segera untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa, seperti eklamsi (kejang pada wanita hamil) dan solusio plasenta, suatu keadaan yang ditandai dengan terlepasnya plasenta dari dinding rahim, yang menyebabkan perdarahan berat yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Pre-eklamsi juga dapat menghambat pertumbuhan janin di dalam kandungan. Pada kasus-kasus dimana kehamilan terlalu berbahaya untuk menginduksi kelahiran sang bayi, obat-obatan seperti antihipertensi dan kortikosteroid dapat diberikan untuk mengatasi gejala dan mempertahankan kehamilan sampai usia bayi cukup untuk induksi persalinan.
Sesuai kondisinya sang ibu harus menjalani persalinan dengan tindakan operasi sesar. Saat tiba di RS pemerintah sebagai pusat rujukan ibu itu tidak dapat masuk karena kapasitas di RS tersebut sudah full. Sudah bukan rahasia lagi untuk RS rujukan pemerintah ini, meski JKN masih dalam proses namun RS ini tetap kebanjiran pasien. Bahkan pasien sampai harus ada yang mengantri hingga 3 hari untuk bisa mendapatkan ruangan inap. Jadi penolakan itu tidak tanpa alasan, daripada sang ibu terkotang – katung nasibnya bukankah lebih baik RS pemerintah ini memberikan pilihan lain untuk ibu ini dirujuk ke RS swasta yang memiliki kuota JKN juga. Lalu ibu ini menuju RS swasta A, dan ternyata di RS swasta A ibu ini juga ditolak dengan alasan bahwa di RS ini ruang untuk ibu bersalin dengan JKN belum tersedia. Ibu ini bisa masuk sebagai pasien umum. Melihat kondisi keuangan dan biaya yang ditawarkan, jelas ibu ini mundur teratur.
Coba menuju RS swasta B, dan dengan alasan lain ibu ini tetap mendapatkan jawaban yang sama. Tidak bisa dirawat di RS tersebut. Akhirnya di RS swasta C, mengingat kondisi ibu yang sudah semakin melemah disertai resiko lain maka RS ini menerima ibu tersebut. Sejenak mengabaikan prosedur JKN apakah nantinya tagihan ibu ini akan dibayar oleh negara maupun resiko kerugian. RS swasta C ini berani mempertruhkannya demi alasan kemanusiaan. Saya sengaja tidak menyebut nama RS nya, hal ini untuk menghindari konflik. Namun bagian JKN yang sedang kita bahas ini seharusnya menjadi renungan untuk kita. Jika sistem yag belum siap tetap dipaksakan, berapa banyak orang miskin yang sedang sakit harus terkatung – katung seperti kisah ibu tadi.
Masih banyak pro dan kontra lain yang terjadi di luar sana. Termasuk pemeriksaan medis yang tidak sesuai indikasi maka tidak akan dibayarkan. Lalu bagaimana dengan hal tersebut. Bila kita masuk ke ruang Gawat Darurat atau UGD maka sering kita lihat pasien masuk langsung di infuse, di beri oksigen, direkam jantung (EKG), diambil darah untuk diperiksa laboratoriumnya. Dan jika nanti saat diperiksa tidak ada kelainan, maka pemeriksaan yang telah dilakukan itu tidak akan dibayar oleh pemerintah. Padahal kita tahu bahwa ketika dokter harus menegakan diagnosa pada pasien ada banyak pemeriksaan yang dijalani. Ini menjadi warning alert tesendiri bagi pihak RS.
Beda RS beda pula denga PUSKESMAS, jasa pelayanan dokter umum di PUSKESMAS hanya 2000 rupiah saja yang akan dibayar oleh pemerintah. Belum lagi untuk pemeriksaan dan pengobatan yang IUR (pembayarannya) juga belum jelas prosedurnya. Akhirnya meski JKN ini sudah ditetapkan dan sudah berjalan namun masih butuh banyak perbaikan. Jangan sampai pengobatan murah yang pemerintah siapan untuk masyarakat malah menjadi pengobatan yang tidak aman. Karena demi mempertahankan biaya yang murah semua alat, fasilitas dan obat – obatan dibatasi. Sehingga rentang waktu kesembuhan juga semakin panjang.

Sabtu, 04 Januari 2014

Reflection



Serasa seperti membuka kembali lembaran buku harian baru ketika melangkah melawati tahun 2013. Banyak kisah dan kasih yang terbesit dalam perjalan 365 hari ini. Bukan hanya kisah – kisah mellow drama ala sinetron Indonesia. Atau malah kisah horror yang berujung pada kisah sensual para pemainnya. Kisah ini tentang kehidupan real dan nyata hal yang kita alami sehari – sehari yang sering tidak kita sadari atau malah cenderung kita abaikan. Mengakhiri tahun 2013 dan mengawali tahun 2014  merupakan salah satu moment dimana kita bisa merefleksi dan merasakan betapa luar biasanya Tuhan meciptakan kita di dunia ini.
Melihat tahun 2013 rasanya tidak ada bedanya dengan tahun – tahun lainnya. Aku lebih suka mengamati dari sisi yang berbeda sehingga aku dapat melihat dan merasakan hal – hal yang mungkin terlewatkan. Memasuki tahun 2013 aku dipaksa untuk masuk dalam lingkungan baru, dengan tanggung jawab dan tugas baru. Meski sebenarnya aku merasa sama saja, yah karena harus kembali masuk rumah sakit tempat yang biasa aku datangi untuk melaksanakan praktek klinik. Tapi kini aku bukan lagi seorang mahasiswa praktik. Aku seorang karyawan sekarang, yap aku sudah bekerja.
Masuk dunia baru, bertemu dengan orang – orang baru, berpapasan dnegan aturan – aturan baru. Jadi ingat “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Dimana kita berada kita harus menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku di tempat itu. Mungkin sebagian dari kita mengalami ini di tahun 2013 lalu, masuk di lingkungan baru dan harus beradapatasi. Menyesuaikan diri dengan lingkungan ternyata tidak semudah aku menghafal materi IPA jaman SD dulu tentang bagaiman bunglon menyesuaikan diri dengan lingkungan atau bagaimana putri malu menyesuaikan diri saat di sentuh. Sungguh itu adalah hal yang menyita waktu dan tenaga.
Tidak ada dan tidak pernah ada standart pasti norma yang berlaku di lingkungan baru. Rule yang paling aman adalah mengikuti standart norma yang sudah diajarkan jaman sekolah dulu. Itu pikirku dulu, setelah bertemu dengan banyak orang ternyata standart norma setiap orang itu berbeda. Ada beberapa orang yang tidak begitu peduli dengan sopan santun kita. Sebagian lain sangat sensitive pada hal – hal kecil dan menganggap itu melecehkan padahal kadang itu keluar begitu saja sebagai respon spontan atas suatu sikap maupun percakapan. Ada bahkan yang dimuka nampak biasa saja namun di belakang mencibir kesana kemari. Yah, itulah dunia.
Masuk ke lingkungan baru itu artinya berpisah dengan lingkungan atau orang – orang yang sudah lama bergaul dengan kita. Sejujurnya itu juga menekan karena kehilangan sosok yang sudah mengenal kita dan mau menerima kita satu paket. Paket hemat, layakanya di food court bayar cukup 15.000 sudah dapat nasi, ayam goreng, sambal dan lalapan plus minuman tinggal milih mau air mineral atau teh manis. Sama seperti menjalin relasi dengan orang lain, mau tidak mau kita akan mendapatkan tawa nya, tangis nya, senyum nya, marah nya, pengertiannya bahkan keegoisannya. Dan kehilangan orang – orang itu memaksa kita dari awal lagi membangun relasi. Ada yang membangun dengan janji, membangun dengan ketulusan, membangun dengan peraturan, membangun dengan kebutuhan yang lebih parah ada yang membangun relasinya dengan kemunafikan.
Menilik kembali ke diri, dan pada akhir tahun ini diperadapkan pada pilihan untuk move on dan mencapai mimpi. Atau stay dengan kondisi yang ada dengan lingkungan yang lebih mendukung stagnasi namun semua terkendali. Ketimbang memperjuangkan perubahan dan gambling mengusahakan sesuatu yg lebih baik. Kondisi seperti ini lah yang menekan diri secara pribadi. Untuk sementara mengabaikan sekitar dan fokus pada diri sendiri yang sudah mulai terkontaminasi. Dengan gaya hidup yang lebih suka mencari aman ketimbang berani berpetualang.
Hal seperti inilah yang sering kita alami ketika kita mulai memasuki dunia kerja. Jaman kuliah menjadi aktivis yang lantang menyerukan perubahan namun ketika sudah mulai bekerja dengan berbagai pertimbangan termasuk adanya SP (surat peringatan) dan sanksi – sanksi lain kita jadi lebih memilih untuk diam dan membiarkan kondisi yang tidak sesuai dengan idielisme kita berlangsung di depan mata kita. Yah, seolah kita tutup mata. Kita hanya bisa melakukan 2 hal jika sudah terlanjur terseret ke dunia ini. Diam, pura – pura tidak tahu karena bertentangan dengan ideal kita, namun tidak melakukan apa – apa. Atau justru ikut terjun ke dalamnya dan mengikuti arus yang ada.

Sehingga tidak salah bila putra – putri terbaik bangsa lebih memilih untuk berprestasi di luar negeri. Dengan alih – alih go internasional atau dengan penghasilan yang lebih. Nyatanya idealisme mereka lebih dihargai di sana ketimbang di negerinya sendiri. Yang penuh loby – loby dan berbagai birokrasi yang berbelit. Kondisi lain yang tidak kalah membuat satu dilema adalah adanya cibiran dari orang – orang sekitar. Dan justru yang mencibir adalah orang – orang yang memiliki latar belakang sama khususnya dalam dunia pekerjaan. Bagi mereka yang tergolong orang cuek mungkin tidak begitu bermasalah. Namun bagi mereka yang tergolong para pemikir maka hal tersebut akan menjadi suatu pemikiran yang berat. Tentunya karena akan berhubungan dengan perasaan diterima di komunitasnya.
Meghadapai hal seperti ini, bila kita tidka membuka relasi lain untuk diri kita maka tinggal tunggu waktu saja. Kita akan menjadi pribadi yang stagnan dan tidak beranjak dari titik nyaman kita atau malah kita menjadi pribadi yang berambisi namun menghalalkan segala cara. Tetap tinggal atau resign dari area pekerjaan seperti itu menjadi pilihan yang cukup berat. Namun bila tidak dimulai dari diri sendiri maka di lokasi kerja manapun akan tetap mengalami kondisi demikian. Mencari cara menikmati dan tetap memiliki komunitas yang se-visi membuat hidup kita dalam rutinitas pekerjaan menjadi tidak membosankan. Mendapatkan teman berbagi dan teman yang setia mengoreksi kinerja kita dengan jujur dan tanpa keinginan untuk meyenangkan hati.
Apapun bentuk komunitas itu, dimana disana kita bebas menjadi diri sendiri. Tidak terhalang dengan peraturan dan sanksi. Kita bebas mengembangkan diri dan mencapai apa yang kita ingini. Dengan adanya kebebasan jiwa meski berada di area yang penuh tikung menikung atau gencet mengencet kita bisa tetap stay firm. Tetap kuat dan bersemangat mengerjakan tanggung jawab kita. Because profesion not only occupation but also passion.

Selasa, 24 Desember 2013

Save Our Body



Well guys… belakangan ini saya merasa prihatin dengan sikap dan prilaku sebagian atau malah kebanyakan orang. Manusia itu diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna. Jadi sebenarnya apapun bentuk tubuh kita, ada tidaknya kelainan atau pun cacat kita diciptakan dengan sempurna. Itu artinya kita harus mensyukuri tubuh yang Tuhan berikan. Dan menurut hemat saya caranya sungguh mudah , yaitu dengan menjaga tubuh ini tetap sehat.
Polisi sedang gencar melalukan rasia terutama polentas. Bagi para pengendara kendaraan khususnya roda dua diwajibkan menyalakan lampu utama baik pagi, siang, sore maupun malam hari, menggunakan spion standart, membawa surat – surat yang lengkap dan memakai helm SNI. Banyak teman maupun tetangga saya sering bilang “ayo pake helm, nanti kena tilang polisi lho”. Padahal helm selain untuk mencegah cidera pada area kepala kita juga berguna untuk menjaga kesehatan di area kepala. Helm ini menjaga agar kepala kita tidak langsung berbenturan dengan angin terutama saat kendaraan yang kita naiki melaju dengan kencang. Karena benturan angin yang kencang secara terus menerus pada wajah akan menyebabkan beel palsy atau semacam rasa baal, kebas dan tebal pada muka efek jangka panjangnya adalah kelumpuhan syaraf perifer di wajah kita. Pada mata kan menyababkan pandangan kabur dan ketulian pada telinga. Belum lagi kalau kita nggak pake helm sambil ngobrol terus ada entah lebah, belalang atau kumbang bisa saja masuk ke dalam mulut kita. Beuh, tambah vitamin aja nie.
Bulan desember, kata orang jawa ini adalah bulan “geDE – gede ning SuMBER”. Dan memang benar sumber air alias hujan memang sedang gede – gedenya. Buat pengusaha laundry bulan – bulan seperti ini adalah bulan berkah. Karena banyak cucian nggak kering, jadi banyak orang yang memilih melaundry kan bajunya. Dan jadi bulan yang penuh rejeki buat penjual jas hujan. Kenapa tidak, bagi mereka yang biasa beraktivitas dengan kendaraan roda dua pasti jas hujan menjadi penolong saat harus menerobos jalan dengan air yang terus menerus mengguyur. Tapi sebagian orang, biasanya anak remaja sih lebih senang naik montor sambil hujan – hujanan jadi lebih dramatis. Apalagi bagi mereka yang sedang memadu kasih, boncengan bersama saat hujan itu romantis katanya.
Kemarin sore, cuaca di kota tempat ku tinggal cukup dingin. Dari pagi tidak ada cahaya matahari, mendung menggantung mewarnai hari. Pada waktu pulang dan beranjak menjemput ibu ke tempat kerjanya langit makin suram saja. Baru masuk pintu parker air hujan sudah menetes, pelan – pelan dan semakin sering. Langsung tancap gas sampai di depan jalan yang pemiliki kanopi,biasanya disana aku menjemput ibu. Begitu ibu menghampiriku tanpa tunggu komando aku langsung membuka bagasi dan mengeluarkan 2 stel jas hujan, untuk ku dan ibu. Hujan makin deras, namun mengingat hari yang makin sore kami terobos hujan. Tapi bukan itu masalah utamanya sobat – sobat sekalian.
Saat kami melintasi jalan montor kami disalip oleh orang yang berboncengan naik Honda CBR warna merah. Mereka pakai helm, namun tidak memakai jaket apalagi jas hujan. Mereka melaju di depanku dan satu hal yang menarik pandanganku. Sang pemboceng adalah cewek mungkin usianya 20 tahunnya. Dengan rambut berwarna coklat semu kemerahan yang dibiarkan terurai bebas. Dia memakai blazer hitam namun sepertinya dia tidak memakai dalaman. Tubuhnya langsing, namun karena model blazer dan montor yang dinaiki jok nya nungging alias meninggi kebelakang ditambah angin yang bertiup kencang membuat bagian belakang bajunya membuka. Kalau dalam bahasa jawa “ nyingkap” sehingga dari atas pantat sampai hamper setengah punggungnya terekspose.
kira - kira boncengannya kayak gini

Lumayan lah, jadi obat ngantuk untuk para pengendara lain dibelakangnya. Toh, kulit si cewek ini putih mulus. Namun pada waktu itu hujan cukup deras, saya justru kasian padanya. Mungkin memang belazer yang dia pakai sedang trend. Beberapa waktu sebelumnya saya sering liat blazer model seperti itu dijajakan di lapak on-line shop dengan trade mark “blazer korea”. Tidak kalah dengan sang cewek cowok yang memboncengkan hanya memakai kaos dan celana pendek jeans. Mungkin menurut mereka dandanan mereka gaya, dengan body tubuh yang demikian serta montor yang keren. Hal tersebut malah membuat saya iba, dengan tubuh yang baik yang Tuhan beri kenapa tidak mereka jaga.
Saya yang naik montor, sudah pake jaket kulit, celana jenas panjang dan di rangkap dengan jas hujan personal (setelan jas hujan baju dan celana) saja masih merasakan dingin. Sampai rumah langsung ganti baju dan mencari air hangat. Untuk menghangatkan badan, lalu bagaimana dengan mereka. Dan saya bisa pastikan mereka tidak melaju dengan pelan. Saya saja ada  dibelakang mereka dengan kecepatan 70 km/jam. Bisa dibayangkan seberapa besar tekanan angin dan air hujan yang langsung mengenai tubuh mereka (ingat pelajaran fisika jaman SMP dulu). Ketika hujan dan kita malaju dengan kencang, bukankah air hujan yang jatuh mengenai tubuh kita jadi terasa perih, seperti dilempar kerikil – kerikil kecil ke tubuh. Itu yang saya rasakan ketika menerobos hujan, dan air hujan mengenai punggung telapak tangan saya.
So, guys… mensyukuri tubuh yang Tuhan beri bukan hanya dengan memuji atau menunjukan keindahannya saja. Menjaganya adalah hal yang lebih penting untuk kita lakukan. Karena dengan menjaga tubuh ini tetap sehat maka kita juga dapat menggunakan tubuh ini untuk berbuat banyak manfaat bagi sesame.

Semarang, 25 Desember 2013

Rabu, 18 Desember 2013

Move On !

Coba mencari makna kata move on dalam kamus bahasa inggris dan menemukan bahwa arti dari verb tersebut adalah terus maju atau terus berjalan. Yap, akhir - akhir ini kata itu menjadi sangat populer karena berkembang dengan pesat terutama di media sosial macam twitter, facebook, what's up, we chat dan rekan - rekan nya. Bukan hanya di kalangan anak muda kata ini sering digunakan, pada kaum usia dewasa bahkan lansia pun sangat familiar dengan kata ini.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ente harus move on brother." itu cuplikan obrolan yang sempat saya dengar keluar dari mulut seorang bapak paruh baya dalam percakapan dengan telepon selulernya di kantin beberapa waktu lalu. Sempat merasa kalah gaul dengan bapak tersebut tapi itulah yang terjadi sekarang.

Move on, kata ini sering dikaitkan dengan masalah cinta anak muda. Pada beberapa pasangan yang putus cinta dan terlalu lama larut dalam kesedihannya sering sekali disebut "susah move on". Seolah kata ini melambangkan bagaimana seorang bisa terus survive dan meneruskan hari - hari nya setelah mengalami satu pengalaman yang seolah membuat diri harus menyerah pada keadaan. Kata ini juga sering digunakan untuk menggambarkan ketika kita mampu bangkit dari kegaulan hati kita.

Lalu kenapa kata ini menjadi begitu menarik dan menjadi judul posting pertama saya dalam blog ini. Hidup kadang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Seringkali kita mendapatkan kenyataan yang begitu bertentangan dengan mimpi dan keinginan kita. Tidak jarnag kita juga berada dalam titik yang begitu menjanuhkan. Hari - hati yang penuh dengan rutinitas yang selalu berulang dan terus berulang setiap harinya. Tugas dan pekerjaan yang terus menumpuk seakan tiada selesainya dan sering dalam titik ini kita justru larut dalam euforia kemalasan bangkit dari keadaan. Merasa jenuh dan bosan namun menikmati dan  tidak mampu bangun dan mengusahakan satu kondisi yang lebih baik.

Diakui atau tidak, saya secara pribadai pernah berada dalam kondisi seperti di atas. Itulah untuk bangkit dan berdiri kembali menantang ahri dan tidak terkotakan dalam satu rutinitas. Mencoba mensyukuri dan menikmati setiap harii yang Tuhan beri. Dengan move on, beranjak dari titik nyaman yang melumpuhkan kreatifitas dan perfprma dalam hidup. Maaf, kalau bahasanya agak berlebihan karena memang mendapatkan kata - kata itu yang sangat pas untuk mendeskripsikan berbagai pikiran yang hanya bisa berputar - putar di dalam kepala.

Iya, bangkit dan mencoba mengeksplore isi pikiran. Berharapa bisa menjadi satu bagian yang mampu dikeluarkan dan tidak menyumbat pikiran sehingga menajdi tumpul dan tidak produktif lagi. Tentu sebagian dari  kita masih ingat analogi pisau, yang bila tidak pernah digunakan maka akan menjadi tumpul. Mencoba mendayagunakan fasilitas yang ada untuk terus bergerak dan tidak pernah diam dalam satu titik. "Karena stagnasi hanya untuk orang mati" .  Jika boleh mengkaitkan antara move on dengan potongan ungkapan diatas maka bila kita tidak mampu move on atau bergerak dari kondisi yang kita alami sekarang berarti kita ada di dalam kematian. Karena ketika kita tidak mampu move on maka kita sedang berada dalam stagnasi.
Mungkin kita tidak mati secara biologis atau fisik, namun mungkin rohani kita yang mati, perasaan kita yang mati, kreatifitas kita yang mati, semangat kita yang mati atau mungkin motivasi kita yang mati.

Disinilah kita berdiri antara pilihan untuk bergerak "move on" atau diam di tempat, putus asa dan pasrah pada kondisi yang ada.