Selasa, 01 April 2014

PERAWAT dan POLITIK



Masuk bulan April tahun 2014 ini menjadi bulan yang cukup hot untuk kita. Bukan hanya karena sudah mulai jarang turun hujan tapi atmosfer di masyarakat kita memang sedang memanas. Apalagi kalau bukan pemilu legislatif  yang akan di selenggarakan tanggal 9 April 2014 kelak. Pada masa orde baru saya mengenal pemilu sebagai pesta demokrasi rakyat. Entah itu hanya selogan atau memang benar. Sekarang melihat pemilu hanya seperti proses percaloan pemangku kekuasaan yang diikuti dengan adegan yang saya rasa tidak menunjukan sisi cinta lingkungan. Sebatas pemikiran pribadi tentang pamflet yang menghabiskan berlembar – lembar kertas dari berapa juta pohon yang tertebang. Tak urungnya hanya disimpan atau malah langsung dibuang. Atau puluhan MMT yang berselebaran di jalan. Dipaku di pohon,ditempel di tiang listrik, dengan bambu dipasang di pembatas jalan. Selain merusak keindahan juga berbahaya, seperti siang itu seorang bapak pengendara sepeda montor yang tidak sengaja jaketnya tersangkut pada bambu yang digunakan memasang MMT salah satu caleg di area jalan protocol yang cukup ramai. Bersyukur jaketnya hanya sobek dan sempat oleng sedikit padahal dibelakangnya ada truk BBM dan bus dalam kota.
Kondisi seperti ini mau tidak mau membuat kita membuka mata dan peduli pada iklim politik di negeri kita yang mulai tidak sehat. Minggu lalu saya sempat mengikuti acara deklarasi salah satu forum kemasyarakatan yang di hadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang. Menurut beliau politik, adalah jargon “kalau kumpul rasanya menggelitik”. Menurut saya tidak hanya menggelitik tapi juga bikin intrik. Mengapa demikian? Di beberapa akun media sosial yang mengaku heater tokoh X atau partai X akan mati – matian mengeluarkan data – data yang menyudutkan partai dan tokoh tersebut dan akan dibalas oleh sang simpatisan hingga tidak jarang muncul percikan – percikan emosi dalam deretan kata yang tertulis dalam komentar atau twit nya. Dan setelah dibaca serasa nonton debat politik atau ILC (salah satu acara yang sedang ramai diperbincangkan sekaligus memiliki saingan ILK).
Diluar kondisi tersebut dari salah satu akun yang beranggotakan puluhan ribu perawat di situs FB saya mendapatkan info ada beberapa perawat yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif.
1.       Dr. H. Djauhari, MM / Demokrat/ Dapil Sumsel 1/No 2
2.      Afri Sunadi M.Kep.,SpKMB / PDIP/ Dapil Bengkulu/ No 4
3.      Prof. Achir Yani S Hamid, DN., MNSc / PDIP / Dapil Lampung 1/ No 3
4.      H. Jamaludin, S.Kep., Mkep / PKB/ Jabar VII/ No 9
5.      H. Syarif Hidayat, MSi/ PAN/ Jabar XI/ No 4
6.      Nurmala Manurung, SKM/ PKPI / Sumut 1/ No 3
7.      Irfan Soritua Hasibuan, AMK/ PKB/ Sumut 2/ No 5
8.      Kristina Everentia Ngasu, S.E., S.Kep.,Ners/Nasdem/ NTT 1/ No 5
9.      Nova Maulidiya, S.Kep/ PKB/ Aceh 2 / No 6
10.  Rina Susanti, SKM / Nasdem/ Jambi/ No 6
11.  Tati, AMK/ Demokrat/ Jateng 9/ No 8
12.   H. Sutomo, SPd., M.Kes/ Golkar/ Jateng V/ No 6
(Masih ada nama – nama lain yang belum tercatat, maaf karena belum sempat merangkum)
Ada rasa bangga, karena akhirnya profesi ini berkembang. Melihat profesi tetangga yang sudah dari dulu banyak terlibat di ranah politik dan pemerintahan. Sedang profesi ini, perawat masih sibuk dengan pasien dan administratifa lain dipelayanan klinik. Hanya mengira – ira apakah memang pendidikan perawat di negeri ini dulu sengaja dihamabt agar posisinya tetap di bagian vokasional sehingga tidak bisa menyentuh ranah politik yang maha agung.
Terbersit juga rasa takut, mengingat godaan di gedung legistatif sana (baik kota, provinsi terlebih nasional) sungguh amat berat. Setiap kebijakan tidak serta merta di bahas dan disetujui demi kemaslatan rakyat. Selalu ada tendensi dan perhitungan untung rugi dalam setiap kebijakan dan keputusan yang diambil. Terkuaknya berbagai skandal juga menjadikan hati ini prihatin. Berharap para senior sejawat yang kelak menjadi anggota legislatif tidak terjerat dalam lingkaran setan yang sudah menelan banyak korban.
Melihat kenyataan ini sudah seharusnya kita (PERAWAT) sekarang melek politik. Sadar diri dan tahu sejauh mana posisi kita dapat menyentuh di ranah hokum. Apapun alasan dari rekan – rekan sejawat yang mengambil jalur politik. Setidaknya mereka punya keinginan sebagai wujud nyata dalam menge-goal kan RUU Keperawatan. Meskipun di grass area masih banyak perawat yang ragu dan belum sepaham tentang esensi Undang – Undang Keperawatan bagi profesinya. Banyak respon pesimistik dari rekan – rekan sejawat bahkan adanya perbedaan pandangan antara rekan – rekan di area akademisi dengan rekan – rekan di area klinis. Ini kelemahan profesi kita, karena sistem membuat kita terpisah. Berbeda hal nya dengan profesi tetangga dimana area akademisi berkesinambungan dengan area klinis.
Pesimistik secara pribadi maupun profesi terlihat dari beberapa rekan yang mengungkapkan tidak akan menberikan hak suaranya secara sengaja pada pemilu esok. Miris sebenarnya mendengar hal tersebut, namun tidak banyak hal yang bisa dilakukan mengingat bahwa nyoblos (memberikan suara) pada pemilu adalah hak setiap warga negara. Artinya mereka berhak memilih siapa aja sekaligus berhak untuk tidak memilih siapa – siapa. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah terutama legistatif pun sangat menurun. Hal ini muncul dari berbagai kritikan dari yang sopan hingga yang sangat keras di berbagai media. Ya, inilah Indonesia kata salah seorang teman saya.
Dalam sistem politik demokrasi di negeri ini pada dasarnya semua orang punya hak yang sama untuk menentukan kemana arah jalannya negara (rakyat berdaulat/berkuasa). Setiap orang punya hak untuk memimpin, membuat aturan, mengelola sumber daya alam, mengatur keuangan negara. Tetapi karena sebagian besar masih mengalami buta politik maka mereka tidak mengambil haknya. Akibatnya politik dimanfaatkan oleh orang-orang yang melek politik yang ternyata jumlahnya jauh lebih sedikit. Selanjutnya kekuasaan akan dipengaruhi oleh sedikit orang. Hal ini lah yang selama ini terjadi dalam sistem profesi kita.
Sebagian dari kita terlalu sibuk mencari tambahan penghasilan karena gaji perawat yang pas – pas an. Belum lagi pasien yang menyita waktu dan tenaga kita sehingga rasanya usai jam kerja tidak ada lagi waktu untuk melakukan hal produktif lain selain istirahat dirumah dan bercengkrama dengan keluarga. Yang menjadi dosen pun terlalu sibuk dengan mengajar dan bimbingan. Sedang yang lain sudah terlalu mapan dan nyaman dengan posisinya sehingga lupa ada hal ke-profesian yang harus diperjuangkan. Maka sebagian besar dari kita (PERAWAT) hanya mampu menjadi penonton dan sumber daya yang terus diatur oleh sedikit orang yang nyatanya tidak peduli dengan perkembangan profesi ini.
Semasa kuliah saat saya ikut pendidikan politik, disampaikan bahwa politik adalah sebuah usaha yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal dalam rangka mencapai satu tujuan (lupa sumbernya darimana, maaf). Dengan pengertian semacam itu bukankah sehari – hari sebagai perawat kita berusaha mempengaruhi orang lain? Setiap hari kita berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya agar mereka mematuhi terapi untuk mencapai kesembuhan. Bukankah kita juga begitu pandai untuk melakukan penkes di masyarakat dan memotivasi mereka untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat? Dengan demikian maka tidak ada alasan lagi bagi perawat untuk tidak peduli, cuek bahkan apatis terhadap politik.

Rabu, 12 Maret 2014

Merawat, bukan hal yang mudah

Sebagai lulusan jurusan keperawatan, mendengar kata - kata merawat sudah bukan hal yang asing lagi di telinga. Merawat sudah hampir menjadi makanan sehari - hari, seolah menjadi bagian nadi yang terus berdenyut bersama dengan puluhan materi yang diajarkan para dosen kala itu. Merawat itu suatu seni karena tidak semua orang punya cara dan traetment yang sama dalam memberikan perawatan. Merawat berbeda dengan membuat pembukuan atau laporan administrasi tentunya. Karena merawat dalam konsep ini adalah memberikan suatu perhatian khusus pada mahkluk hidup khususnya manusia. Mahkluk yang punya rasa dan karsa sehingga tidak mudah memperlakukannya.
Melihat obyek yang dirawat adalah manusia, yang punya karakter dan harapan yang berbeda antara satu dengan yang lain. seorang yang merawat atau biasa disebut perawat (bukan perawat hewan atau tanaman,lho) harus menyadari bahwa orang yang ia rawat memiliki sisi bio,psiko, cultural dan spiritual yang harus diperhatikan. Terlebih bila sudah membicarakan ini dalam ranah pelayanan kesehatan dimana ada biaya yang dikeluarkan sehingga tuntutan dan harapan dari pihak yang dirawat pun menjadi tinggi.
Merawat sebenarnya muncul dari insting keibuan, itu sebabnya pada masa yang dulu perawat sering di dominasi para wanita. Karena dianggap memiliki rasa kepedulian dan mengerti secara alami kebutuhan orang - orang yang dirawat. Namun konsep ini lama kelamaan berkembag dan menajdi sebuah ilmu baru yang berdasar pada ilmu kesehatan. Aspek dari merawat sendiri tidak terbatas, semua lini dan bidang kehidupan sebenarnya dapat tersentuh olehnya. Kalau dulu merawat hanya berpusat pada fase penyembuhan saja atau setelah terjadinya masalah kesehatan. Kini paradigmanya sedikit berubah bahwa merawat juga masuk dalam lini mencegah sebelum terjadinya masalah kesehatan.
Merawat itu mudah??? saya rasa tidak. Coba tanya pada seorang ibu yang sedang merawat anaknya. Pasti dia akan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya dan kondisi anaknya yang tidak jarang membuatnya ingin  menyerah. Merawat bukan hanya memberikan makan dan minum tapi juga memenuhi kebutuhan secara menyeluruh termasuk kebutuhan emosional. Hal ini yang kini sulit dicapai, jangan kan anatara perawat dengan pasiennya, antara ibu dengan anaknya saja jaman ini begitu sulit. Bayangkan berapa anak yang lebih memiliki keterikatan emosional dengan nenek nya ketimbang ibu nya. Lebih parahnya lagi berapa anak sekarang yang lebih memiliki keterikatan batin dengan pembantu, baby siste atau "embak" nya ketimbang dengan ibunya. Itulah kenapa merawat itu tidak semudah membalikan telapak tangan.
Lihat juga fenomena, ketika orang tua mulai renta dan sakit - sakitan. Sebenarnya bukan kamar rumah sakit yang paling mahal, dengan perawat berstandart internasional dan fasilitas modern serta canggih yang mereka harapkan. Anak - anak atau orang - orang terkasih yang ada disekitar mereka merawat dan memberikan dukungan emosional itu yang lebih mereka butuhkan. Namun hal itu lah yang sering kita di jaman globalisasi dan serba cepat ini lupakan. Kita pikir teknologi dapat menggantikan kehadiran kita. Parahnya keberadaan kita dianggap sebanding dengan banyaknya angka nol yang berjajar pada jumlah dana di rekening mereka.
Merawat itu tidak mudah, karena ketika kita merawat kita menumbuhkan kembali rasa dicintai, rasa disayangi dan rasa diperhatikan . hal - hal yang sepele tapi sudah sangat sulit ditemukan di masa sekarang ini. Bagaimana membina hubungan simpati dengan pasien itu hanya sebatas teori dan faktanya beban hidup kita lebih penting ketimbang itu semua. Ingat merawat itu "mother instight". Merawat adalah suatu wujud nyata dari rasa peduli yang ditunjukan dengan sikap yang tepat. Andai saja setiap perawat menyadari apa itu merawat dengan baik tentu tidak akan ada image di masyarakat tentang perawat yang galak atau perawat yang cuek. Dan sikap baik yang ditunjukan bukan hanya sebatas tuntutan kerja namun benar - benar sebuah pancaran kasih dari dalam diri yang diwujudkan dengan perhatian kepada sesama.

Jumat, 14 Februari 2014

BERJALAN DI TENGAH ABU VULKANIK



Seolah menjadi orang yang tidak peduli lagi, mungkin itu perasaan yang saya rasakan setelah beberapa bulan terakhir ini lebih sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Setiap bulan memang menyempatkan diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial. Masuk dalam tim posyandu lansia membuat saya tidak kehilangan sisi kemanusiaan. Yang terkadang hilang bukan karena kesombongan atau rasa tidak peduli namun lebih karena waktu yang tersita untuk diri sendiri.
Negeri kita tercinta, Indonesia Raya sedang dirundung musibah. Mengapa tidak, beberapa buln terakhir ini ada saja bencana yang datang silih berganti. Layaknya berita infotaiment yang juga silih berganti dari kasus perceraian yang satu ke kasus perceraian yang lain. Beberapa orang mungkin berpendapat bukan beberapa bulan yang lalu aja. Tapi memang tahun – tahun ini bencana rasanya tidak pernah absen dari negeri merah putih ini.
Erupsi Gunung Sinabung, ini bencana yang lumayan bertahan lama. Dan melihat bahwa memang masyarakat kita yang hidup di negara gemah ripah loh jinawi ini tidak cukup siap menghadapi gejolak alam. Dengan negara yang memiliki area pertemuan lempeng bumi dengan gugusan gunung api terbesar dan dikelilingi 2 samudra besar. Seharusnya sedari kecil kita sudah mawas. Sudah dibekali kemampuan untuk bisa melakukan penyelamatan diri sendiri minimal ketika ada bencana. Namun bisa dipastikan hanya sedikit dari kita yang mampu bertindak dengan tenang dan tepat saat bencana datang. Saya sendiri tidak yakin saya mampu melakukannya.
Kecolongan mungkin itu yang bisa saya simpulkan karena akibat awan panas Sinabung ada 17 orang yang meninggal dunia. Angka yg relatif kecil dibanding dengan korban awan panas atau “wedus gembel” Merapi 2010. Karena sebenarnya sudah diberikan peringatan dan tim relawan jauh lebih sigap karena sudah banyak belajar dari kasus Merapi. Kejadian yang tidak diharapkan ke 17 korban meninggal dikarenakan melanggar batas zona merah, yaitu zona berbahaya. Dan jika mau flashback ke tahun 2010, korban meninggal yg terkena “wedus gembel” karena tidak mau mengungsi atau mengira kondisi sudah baik lalu kembali kerumahnya. Beberapa tak sempat melarikan diri saat dikejar sang awan panas.
Di bulan kasih sayang ini (katanya beberapa orang sih), kembali di perhadapkan dengan fenomena alam yg cukup mencekam. Setelah kurang lebih 1 bulan berkutat dengan air yang menggenang kini saat nya abu vulkanik yang menemani keseharian. Tepat semalam pukul 22.50 (kurang lebih) Gunung Kelud di Kediri Jawa Barat meletus. Cukup mengagetkan karena suara dentuman yg hebat dan gempa nya terasa hingga Solo Jawa Tengah. Pagi ini abu vulkanik nya cukup membuat 7 bandara di tutup dan jarak pandang kendaraan bermotor hanya 5 meter di beberapa daerah khususnya area sekitar Solo dan Yogyakarta.
Semalam sempat kontak dengan salah satu kakak di sana. Hanya pesan singkat saja “disini udah nggak karuan,hujan batu” itu sudah cukup menggambarkan kondisi Kediri yang ada di kaki Gunung Kelud semalam seperti apa. Betapa panik dan bingungnya masyarakat sana. Beberapa juga tentu kaget karena kejadian di tengah malam, saatnya orang istirahat. Respon yang wajar terjadi saat menghadapi bencana. Ketakutan dan kecemasan itu tentu selalu ada. Jauh – jauh hari memang sudah di sampaikan tentang status bencana yang akan terjadi di sekitar area Gunung Kelud. Warga juga sudah disiapkan secara akomodasi, transportasi bahkan jalur evakuasi.
Seperti petang itu, 4 November 2010 suatu kesempatan yang sungguh luar biasa. Bisa menjadi bagian dari tim relawan Merapi. 21 orang mahasiswa dengan 3 orang dosen, tepisah di beberapa posko pengungsian. Dari yang berjarak 8 km dari puncak Merapi hingga 25 km dari puncak merapi. Semua berjalan biasa saja, memberikan obat, membantu dapur umum dan mendistribusikan bantuan. Sampai akhirnya Merapi meletus. Gempa yang cukup besar terasa, diikuti tremor2 kecil semalaman. Hujan batu kerikil sudah tidak bisa terhindari. Pukul 20.00 WIB sirine berbunyi dimana – dimana, listrik padam, semua orang berusaha menyelamatkan diri. Hanya ada kat aberserah kala itu, karena kalo memang harus berpulang mungkin itu cara terbaik berpulang dalam keadaan memberikan pelayanan pada sesama.
Bahkan perjalanan menuju ke area pengungsian sudah diwarnai rasa khawatir yang luar biasa. Memasuki kota Magelang kala itu, semua penuh abu vulkanik. Dimana – mana hanya terlihat debu yang menempel. Hampir tidak ada tnada – tanda kehidupan. Magelang kala itu bak kota mati. Hujan yang turun pun bukan air, karena begitu pekatnya material yang ada di atas sana hujan yang turun adalah hujan lumpur. Air yang menetes berwarna hitam kecoklatan. Khas warna abu yang terkena air. Dan siang ini hal serupa kembali berulang. Serasa seperti di kembalikan pada ingatan kala itu.
Abu vulkanik Gunung Kelud yang menyebar ke bagian barat dan utara ini saya rasa cukup adil. Tuhan mengajarkan kita untuk ikut peduli, ikut merasakan beban yang melanda saudara – saudara kita yang ada di lereng Gunung Kelud. Langit yang seolah murung, tak menampakan keceriaan akhir musim penghujan ini juga membuat rasa cemas dan was – was menyebar hampir diseluruh plosok pulau Jawa.  Seharian ini berjalan bersama abu vulkanik, merelakan kendaraan yang kita pakai menjadi kotor dan memakai masker saat keluar ruangan. Peringatan yang cukup menohok karena mungkin Tuhan sudah mulai bosan dengan ucapan ampun kita namun tidak ada perubahan.
Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap sebagai warna negara dengan gugusan gunung api terbanyak di dunia kita harus siap behadapan dengan abu vulkanik. Mengerti bahwa semua ada dalam kuasaNya. Abu tersebut bisa terbawa ke kota lain yang bermil – mil jauhnya. Abu tersebut juga mampu melmpuhkan perekonomian setempat. Bahkan transportasi terganggu dengan kondisi tersebut. Sinyal telepon seluler dan listrik pun terbatas. Lihat, kemegahan yang kita bangun (walaupun dengan uang utang ke IMF) semua bisa lenyap begitu saja dalam murka Nya.
Lalu masih bisakan=h kita menyombongkan diri? Dan masih bisakah kita dengan congkak memamerkan harta dan semua hal yang kita miliki. Bencana seperi ini seharusnya membuat kita lebih mawas diri. Menyadari kekurangan diri dan selalu berserah pada Kuasa yang Maha Suci. Tuhan juga ingin kita lebih peduli, tidak terkotak dalam titik nyaman kita sendiri. Mencoba melhat keluar memperhatikan sesame yang membutuhkan. Dan seahrusnya itu kita kerjakan bukan hanya setelah ada bencana besar macam ini. Seharusnya itulah gaya hidup kita.
Kepedulian dan kepekaan akan kondisi sesame memang membutuhkan tenaga ekstra. Namun mempercayai bahwa sumber dari segala sumber tenaga menyertai keseharian kita. Tidak ada lagi alasan untuk eksklusif dan hedonis lagi. Mungkin anak – anak gaul sekarang menyebutnya selfie. Kita yang memiliki kepedulian dan kepekaan ini akan sangat berarti bagi mereka yang merasa takut dan sendirian. Sudah seharusnya kita mampu melangkah melewati hari bersama Abu Vulkanik. Tidak perlu takut ataupun gentar karena perlindungan Tuhan itu nyata. Dan dengan saling peduli kita dapat saling menanggung beban saudara – saudara kita.

Kamis, 16 Januari 2014

BPJS, yang MURAH tapi belum tentu AMAN



Baru kurang lebih 2 minggu atau 15 hari mulai diberlakukan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) atau  orang – orang lebih senang menyebut BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Ini mungkin menjadi angin semilir bagi para buruh yang pada masa sebelumnya ikut JAMSOSTEK (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) namun tidak diikutkan dalam jaminan kesehatan. Mengingat program JAMSOSTEK ini punya 4 item (jaminan kesehatan, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan kecelakaan kerja). Biasanya para pengusaha untuk menghindari potongan yang terlalu tinggi hanya mengikutkan dalam 3 program saja. Sehingga kesehatan para karyawan (buruh) tidak tercover dengan baik.
Lepas dari tuntutan para buruh, program pemerintah ini (JKN) menyisakan banyak masalah dan pro – kontra. Selain program ini belum jelas bagaimana sistem pembayarannya. Pergantian sistem dari ASKES ke JKN ini lebih rumit dalam prosedur pelaksanaannya. Banyak pihak medis yang berkeluh kesah atas diberlakukannya program ini. Sistem rujukan dan dokter keluarga serta panjangnya antrian saat mendaftar membuat bukan hanya para pekerja di dunia kesehatan namun juga pasien harus bekerja keras.
Pihak rumah sakit khususnya swasta, mengakali program ini dengan pembatasan bed untuk pasien dengan JKN. Sehingga masih ada bed untuk pasien umum yang membayar penuh. Tujuannya agar tetap ada perputaran uang dan menghindari rugi yang terlalu tinggi. Kondisi ini juga masih menyisakan banyak pertanyaan.perpindahan dari sistem lama dimana kita mengenal beberapa jaminan kesehatan milik pemerintah seperti ASKES, JAMKESMAS, JAMKESDA maupun JAMPERSAL untuk ibu hamil ke JKN dengan berbagai kebijakannya seolah memihak masyarakat. Namun dalam sisi lain juga memberatkan masyarakat. Dulu PNS yang ikut ASKES bila dirawat di RS seumpama jatah kamarnya kelas 2 lalu yang bersangkutan menginginkan naik ke kelas 1. Maka dia hanya cukup membayar sisa biaya dari total biaya yang di tanggung oleh ASKES. Namun sekarang, bila yang bersangkutan menghendaki naik kelas ke kelas 1, maka JKN nya dianggap tidak ada. Dia harus membayar penuh biaya kelas 1.
Dan untuk waktu dekat ini, sistem yang akan dirubah ke JKN adalah ASKES terlebih dahulu. Sehingga semua PNS akan memakai JKN. Untuk JKN pengganti JAMKESMAS dan sejenisnya masih dalam proses penyesuaian sistem. Sehingga mungkin untuk 3 bulan hingga waktu yang belum bisa ditentukan masyarakat tidak mampu yang dulu bisa gratis berobat ke PUSKESMAS bahkan sampai ke RS. Dari yang Cuma batuk pilek sampai dengan yang harus operasi, cuci darah bahkan kemoterapi. Sementara ini harus masuk sebagai pasien pribadi. Hal ini juga terjadi pada pasien JAMPERSAL, pasien – pasien dengan  kondisi hamil.
Sebelum tahun 2014 ini diberlakukan JAMPERSAL atau jaminan pelayanan ibu bersalin. Sama hal nya dengan nasib teman – teman nya yang lain dalam rangka penetapan JKN bagi seluruh rakyat Indonesia maka JAMPERSAL untuk sementara di hilangkan sampai sistem JKN berjalan seperti yang direncanakan. Malangnya ibu – ibu bersalin dengan biaya minimal namun harus mendapatkan pelayanan maksimal karena berkaitan dengan kondisi kesehatannya tidak dapat ditunda hingga sistem JKN ini siap. Dan kondisi ini nyatanya dialami oleh seorang ibu di kota Semarang.
Seorang ibu yang hamil dengan kondisi berisiko, pre – eklamsi ini harus mengalami ditolak beberapa RS dulu sebelum akhirnya ditolong di salah RS swasta dengan alasan kemanusiaan. Ya, pre-eklamsi adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (di atas 140/90mmHg) dan jumlah protein yang abnormal dalam urin (proteinuria) setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah yang normal. Penyebab pastinya tidak diketahui pada kebanyakan kasus pre-eklamsi tetapi faktor-faktor, seperti kehamilan ganda, diabetes dan obesitas diketahui meningkatkan resiko terkenanya kondisi ini sewaktu kehamilan. Ketika pre-eklamsi berkembang, hal ini dapat menimbulkan retensi cairan, menyebabkan pembengkakan kaki, pergelangan kaki dan wajah. Gejala, seperti sakit kepala yang berat, perubahan penglihatan dan muntah dapat timbul. Pre-eklamsi ringan biasanya diawasi secara hati-hati tanpa suatu pengobatan dan akan menghilang setelah melahirkan. Namun, wanita dengan pre-eklamsi sedang atau berat memerlukan persalinan segera untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa, seperti eklamsi (kejang pada wanita hamil) dan solusio plasenta, suatu keadaan yang ditandai dengan terlepasnya plasenta dari dinding rahim, yang menyebabkan perdarahan berat yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Pre-eklamsi juga dapat menghambat pertumbuhan janin di dalam kandungan. Pada kasus-kasus dimana kehamilan terlalu berbahaya untuk menginduksi kelahiran sang bayi, obat-obatan seperti antihipertensi dan kortikosteroid dapat diberikan untuk mengatasi gejala dan mempertahankan kehamilan sampai usia bayi cukup untuk induksi persalinan.
Sesuai kondisinya sang ibu harus menjalani persalinan dengan tindakan operasi sesar. Saat tiba di RS pemerintah sebagai pusat rujukan ibu itu tidak dapat masuk karena kapasitas di RS tersebut sudah full. Sudah bukan rahasia lagi untuk RS rujukan pemerintah ini, meski JKN masih dalam proses namun RS ini tetap kebanjiran pasien. Bahkan pasien sampai harus ada yang mengantri hingga 3 hari untuk bisa mendapatkan ruangan inap. Jadi penolakan itu tidak tanpa alasan, daripada sang ibu terkotang – katung nasibnya bukankah lebih baik RS pemerintah ini memberikan pilihan lain untuk ibu ini dirujuk ke RS swasta yang memiliki kuota JKN juga. Lalu ibu ini menuju RS swasta A, dan ternyata di RS swasta A ibu ini juga ditolak dengan alasan bahwa di RS ini ruang untuk ibu bersalin dengan JKN belum tersedia. Ibu ini bisa masuk sebagai pasien umum. Melihat kondisi keuangan dan biaya yang ditawarkan, jelas ibu ini mundur teratur.
Coba menuju RS swasta B, dan dengan alasan lain ibu ini tetap mendapatkan jawaban yang sama. Tidak bisa dirawat di RS tersebut. Akhirnya di RS swasta C, mengingat kondisi ibu yang sudah semakin melemah disertai resiko lain maka RS ini menerima ibu tersebut. Sejenak mengabaikan prosedur JKN apakah nantinya tagihan ibu ini akan dibayar oleh negara maupun resiko kerugian. RS swasta C ini berani mempertruhkannya demi alasan kemanusiaan. Saya sengaja tidak menyebut nama RS nya, hal ini untuk menghindari konflik. Namun bagian JKN yang sedang kita bahas ini seharusnya menjadi renungan untuk kita. Jika sistem yag belum siap tetap dipaksakan, berapa banyak orang miskin yang sedang sakit harus terkatung – katung seperti kisah ibu tadi.
Masih banyak pro dan kontra lain yang terjadi di luar sana. Termasuk pemeriksaan medis yang tidak sesuai indikasi maka tidak akan dibayarkan. Lalu bagaimana dengan hal tersebut. Bila kita masuk ke ruang Gawat Darurat atau UGD maka sering kita lihat pasien masuk langsung di infuse, di beri oksigen, direkam jantung (EKG), diambil darah untuk diperiksa laboratoriumnya. Dan jika nanti saat diperiksa tidak ada kelainan, maka pemeriksaan yang telah dilakukan itu tidak akan dibayar oleh pemerintah. Padahal kita tahu bahwa ketika dokter harus menegakan diagnosa pada pasien ada banyak pemeriksaan yang dijalani. Ini menjadi warning alert tesendiri bagi pihak RS.
Beda RS beda pula denga PUSKESMAS, jasa pelayanan dokter umum di PUSKESMAS hanya 2000 rupiah saja yang akan dibayar oleh pemerintah. Belum lagi untuk pemeriksaan dan pengobatan yang IUR (pembayarannya) juga belum jelas prosedurnya. Akhirnya meski JKN ini sudah ditetapkan dan sudah berjalan namun masih butuh banyak perbaikan. Jangan sampai pengobatan murah yang pemerintah siapan untuk masyarakat malah menjadi pengobatan yang tidak aman. Karena demi mempertahankan biaya yang murah semua alat, fasilitas dan obat – obatan dibatasi. Sehingga rentang waktu kesembuhan juga semakin panjang.

Sabtu, 04 Januari 2014

Reflection



Serasa seperti membuka kembali lembaran buku harian baru ketika melangkah melawati tahun 2013. Banyak kisah dan kasih yang terbesit dalam perjalan 365 hari ini. Bukan hanya kisah – kisah mellow drama ala sinetron Indonesia. Atau malah kisah horror yang berujung pada kisah sensual para pemainnya. Kisah ini tentang kehidupan real dan nyata hal yang kita alami sehari – sehari yang sering tidak kita sadari atau malah cenderung kita abaikan. Mengakhiri tahun 2013 dan mengawali tahun 2014  merupakan salah satu moment dimana kita bisa merefleksi dan merasakan betapa luar biasanya Tuhan meciptakan kita di dunia ini.
Melihat tahun 2013 rasanya tidak ada bedanya dengan tahun – tahun lainnya. Aku lebih suka mengamati dari sisi yang berbeda sehingga aku dapat melihat dan merasakan hal – hal yang mungkin terlewatkan. Memasuki tahun 2013 aku dipaksa untuk masuk dalam lingkungan baru, dengan tanggung jawab dan tugas baru. Meski sebenarnya aku merasa sama saja, yah karena harus kembali masuk rumah sakit tempat yang biasa aku datangi untuk melaksanakan praktek klinik. Tapi kini aku bukan lagi seorang mahasiswa praktik. Aku seorang karyawan sekarang, yap aku sudah bekerja.
Masuk dunia baru, bertemu dengan orang – orang baru, berpapasan dnegan aturan – aturan baru. Jadi ingat “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Dimana kita berada kita harus menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku di tempat itu. Mungkin sebagian dari kita mengalami ini di tahun 2013 lalu, masuk di lingkungan baru dan harus beradapatasi. Menyesuaikan diri dengan lingkungan ternyata tidak semudah aku menghafal materi IPA jaman SD dulu tentang bagaiman bunglon menyesuaikan diri dengan lingkungan atau bagaimana putri malu menyesuaikan diri saat di sentuh. Sungguh itu adalah hal yang menyita waktu dan tenaga.
Tidak ada dan tidak pernah ada standart pasti norma yang berlaku di lingkungan baru. Rule yang paling aman adalah mengikuti standart norma yang sudah diajarkan jaman sekolah dulu. Itu pikirku dulu, setelah bertemu dengan banyak orang ternyata standart norma setiap orang itu berbeda. Ada beberapa orang yang tidak begitu peduli dengan sopan santun kita. Sebagian lain sangat sensitive pada hal – hal kecil dan menganggap itu melecehkan padahal kadang itu keluar begitu saja sebagai respon spontan atas suatu sikap maupun percakapan. Ada bahkan yang dimuka nampak biasa saja namun di belakang mencibir kesana kemari. Yah, itulah dunia.
Masuk ke lingkungan baru itu artinya berpisah dengan lingkungan atau orang – orang yang sudah lama bergaul dengan kita. Sejujurnya itu juga menekan karena kehilangan sosok yang sudah mengenal kita dan mau menerima kita satu paket. Paket hemat, layakanya di food court bayar cukup 15.000 sudah dapat nasi, ayam goreng, sambal dan lalapan plus minuman tinggal milih mau air mineral atau teh manis. Sama seperti menjalin relasi dengan orang lain, mau tidak mau kita akan mendapatkan tawa nya, tangis nya, senyum nya, marah nya, pengertiannya bahkan keegoisannya. Dan kehilangan orang – orang itu memaksa kita dari awal lagi membangun relasi. Ada yang membangun dengan janji, membangun dengan ketulusan, membangun dengan peraturan, membangun dengan kebutuhan yang lebih parah ada yang membangun relasinya dengan kemunafikan.
Menilik kembali ke diri, dan pada akhir tahun ini diperadapkan pada pilihan untuk move on dan mencapai mimpi. Atau stay dengan kondisi yang ada dengan lingkungan yang lebih mendukung stagnasi namun semua terkendali. Ketimbang memperjuangkan perubahan dan gambling mengusahakan sesuatu yg lebih baik. Kondisi seperti ini lah yang menekan diri secara pribadi. Untuk sementara mengabaikan sekitar dan fokus pada diri sendiri yang sudah mulai terkontaminasi. Dengan gaya hidup yang lebih suka mencari aman ketimbang berani berpetualang.
Hal seperti inilah yang sering kita alami ketika kita mulai memasuki dunia kerja. Jaman kuliah menjadi aktivis yang lantang menyerukan perubahan namun ketika sudah mulai bekerja dengan berbagai pertimbangan termasuk adanya SP (surat peringatan) dan sanksi – sanksi lain kita jadi lebih memilih untuk diam dan membiarkan kondisi yang tidak sesuai dengan idielisme kita berlangsung di depan mata kita. Yah, seolah kita tutup mata. Kita hanya bisa melakukan 2 hal jika sudah terlanjur terseret ke dunia ini. Diam, pura – pura tidak tahu karena bertentangan dengan ideal kita, namun tidak melakukan apa – apa. Atau justru ikut terjun ke dalamnya dan mengikuti arus yang ada.

Sehingga tidak salah bila putra – putri terbaik bangsa lebih memilih untuk berprestasi di luar negeri. Dengan alih – alih go internasional atau dengan penghasilan yang lebih. Nyatanya idealisme mereka lebih dihargai di sana ketimbang di negerinya sendiri. Yang penuh loby – loby dan berbagai birokrasi yang berbelit. Kondisi lain yang tidak kalah membuat satu dilema adalah adanya cibiran dari orang – orang sekitar. Dan justru yang mencibir adalah orang – orang yang memiliki latar belakang sama khususnya dalam dunia pekerjaan. Bagi mereka yang tergolong orang cuek mungkin tidak begitu bermasalah. Namun bagi mereka yang tergolong para pemikir maka hal tersebut akan menjadi suatu pemikiran yang berat. Tentunya karena akan berhubungan dengan perasaan diterima di komunitasnya.
Meghadapai hal seperti ini, bila kita tidka membuka relasi lain untuk diri kita maka tinggal tunggu waktu saja. Kita akan menjadi pribadi yang stagnan dan tidak beranjak dari titik nyaman kita atau malah kita menjadi pribadi yang berambisi namun menghalalkan segala cara. Tetap tinggal atau resign dari area pekerjaan seperti itu menjadi pilihan yang cukup berat. Namun bila tidak dimulai dari diri sendiri maka di lokasi kerja manapun akan tetap mengalami kondisi demikian. Mencari cara menikmati dan tetap memiliki komunitas yang se-visi membuat hidup kita dalam rutinitas pekerjaan menjadi tidak membosankan. Mendapatkan teman berbagi dan teman yang setia mengoreksi kinerja kita dengan jujur dan tanpa keinginan untuk meyenangkan hati.
Apapun bentuk komunitas itu, dimana disana kita bebas menjadi diri sendiri. Tidak terhalang dengan peraturan dan sanksi. Kita bebas mengembangkan diri dan mencapai apa yang kita ingini. Dengan adanya kebebasan jiwa meski berada di area yang penuh tikung menikung atau gencet mengencet kita bisa tetap stay firm. Tetap kuat dan bersemangat mengerjakan tanggung jawab kita. Because profesion not only occupation but also passion.