Sebagai lulusan jurusan keperawatan, mendengar kata - kata merawat sudah bukan hal yang asing lagi di telinga. Merawat sudah hampir menjadi makanan sehari - hari, seolah menjadi bagian nadi yang terus berdenyut bersama dengan puluhan materi yang diajarkan para dosen kala itu. Merawat itu suatu seni karena tidak semua orang punya cara dan traetment yang sama dalam memberikan perawatan. Merawat berbeda dengan membuat pembukuan atau laporan administrasi tentunya. Karena merawat dalam konsep ini adalah memberikan suatu perhatian khusus pada mahkluk hidup khususnya manusia. Mahkluk yang punya rasa dan karsa sehingga tidak mudah memperlakukannya.
Melihat obyek yang dirawat adalah manusia, yang punya karakter dan harapan yang berbeda antara satu dengan yang lain. seorang yang merawat atau biasa disebut perawat (bukan perawat hewan atau tanaman,lho) harus menyadari bahwa orang yang ia rawat memiliki sisi bio,psiko, cultural dan spiritual yang harus diperhatikan. Terlebih bila sudah membicarakan ini dalam ranah pelayanan kesehatan dimana ada biaya yang dikeluarkan sehingga tuntutan dan harapan dari pihak yang dirawat pun menjadi tinggi.
Merawat sebenarnya muncul dari insting keibuan, itu sebabnya pada masa yang dulu perawat sering di dominasi para wanita. Karena dianggap memiliki rasa kepedulian dan mengerti secara alami kebutuhan orang - orang yang dirawat. Namun konsep ini lama kelamaan berkembag dan menajdi sebuah ilmu baru yang berdasar pada ilmu kesehatan. Aspek dari merawat sendiri tidak terbatas, semua lini dan bidang kehidupan sebenarnya dapat tersentuh olehnya. Kalau dulu merawat hanya berpusat pada fase penyembuhan saja atau setelah terjadinya masalah kesehatan. Kini paradigmanya sedikit berubah bahwa merawat juga masuk dalam lini mencegah sebelum terjadinya masalah kesehatan.
Merawat itu mudah??? saya rasa tidak. Coba tanya pada seorang ibu yang sedang merawat anaknya. Pasti dia akan bercerita panjang lebar tentang pengalamannya dan kondisi anaknya yang tidak jarang membuatnya ingin menyerah. Merawat bukan hanya memberikan makan dan minum tapi juga memenuhi kebutuhan secara menyeluruh termasuk kebutuhan emosional. Hal ini yang kini sulit dicapai, jangan kan anatara perawat dengan pasiennya, antara ibu dengan anaknya saja jaman ini begitu sulit. Bayangkan berapa anak yang lebih memiliki keterikatan emosional dengan nenek nya ketimbang ibu nya. Lebih parahnya lagi berapa anak sekarang yang lebih memiliki keterikatan batin dengan pembantu, baby siste atau "embak" nya ketimbang dengan ibunya. Itulah kenapa merawat itu tidak semudah membalikan telapak tangan.
Lihat juga fenomena, ketika orang tua mulai renta dan sakit - sakitan. Sebenarnya bukan kamar rumah sakit yang paling mahal, dengan perawat berstandart internasional dan fasilitas modern serta canggih yang mereka harapkan. Anak - anak atau orang - orang terkasih yang ada disekitar mereka merawat dan memberikan dukungan emosional itu yang lebih mereka butuhkan. Namun hal itu lah yang sering kita di jaman globalisasi dan serba cepat ini lupakan. Kita pikir teknologi dapat menggantikan kehadiran kita. Parahnya keberadaan kita dianggap sebanding dengan banyaknya angka nol yang berjajar pada jumlah dana di rekening mereka.
Merawat itu tidak mudah, karena ketika kita merawat kita menumbuhkan kembali rasa dicintai, rasa disayangi dan rasa diperhatikan . hal - hal yang sepele tapi sudah sangat sulit ditemukan di masa sekarang ini. Bagaimana membina hubungan simpati dengan pasien itu hanya sebatas teori dan faktanya beban hidup kita lebih penting ketimbang itu semua. Ingat merawat itu "mother instight". Merawat adalah suatu wujud nyata dari rasa peduli yang ditunjukan dengan sikap yang tepat. Andai saja setiap perawat menyadari apa itu merawat dengan baik tentu tidak akan ada image di masyarakat tentang perawat yang galak atau perawat yang cuek. Dan sikap baik yang ditunjukan bukan hanya sebatas tuntutan kerja namun benar - benar sebuah pancaran kasih dari dalam diri yang diwujudkan dengan perhatian kepada sesama.
Rabu, 12 Maret 2014
Jumat, 14 Februari 2014
BERJALAN DI TENGAH ABU VULKANIK
Seolah menjadi
orang yang tidak peduli lagi, mungkin itu perasaan yang saya rasakan setelah
beberapa bulan terakhir ini lebih sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Setiap bulan
memang menyempatkan diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial. Masuk dalam tim
posyandu lansia membuat saya tidak kehilangan sisi kemanusiaan. Yang terkadang
hilang bukan karena kesombongan atau rasa tidak peduli namun lebih karena waktu
yang tersita untuk diri sendiri.
Negeri kita
tercinta, Indonesia Raya sedang dirundung musibah. Mengapa tidak, beberapa buln
terakhir ini ada saja bencana yang datang silih berganti. Layaknya berita
infotaiment yang juga silih berganti dari kasus perceraian yang satu ke kasus
perceraian yang lain. Beberapa orang mungkin berpendapat bukan beberapa bulan
yang lalu aja. Tapi memang tahun – tahun ini bencana rasanya tidak pernah absen
dari negeri merah putih ini.
Erupsi Gunung
Sinabung, ini bencana yang lumayan bertahan lama. Dan melihat bahwa memang
masyarakat kita yang hidup di negara gemah ripah loh jinawi ini tidak cukup
siap menghadapi gejolak alam. Dengan negara yang memiliki area pertemuan
lempeng bumi dengan gugusan gunung api terbesar dan dikelilingi 2 samudra
besar. Seharusnya sedari kecil kita sudah mawas. Sudah dibekali kemampuan untuk
bisa melakukan penyelamatan diri sendiri minimal ketika ada bencana. Namun bisa
dipastikan hanya sedikit dari kita yang mampu bertindak dengan tenang dan tepat
saat bencana datang. Saya sendiri tidak yakin saya mampu melakukannya.
Kecolongan
mungkin itu yang bisa saya simpulkan karena akibat awan panas Sinabung ada 17
orang yang meninggal dunia. Angka yg relatif kecil dibanding dengan korban awan
panas atau “wedus gembel” Merapi 2010. Karena sebenarnya sudah diberikan
peringatan dan tim relawan jauh lebih sigap karena sudah banyak belajar dari
kasus Merapi. Kejadian yang tidak diharapkan ke 17 korban meninggal dikarenakan
melanggar batas zona merah, yaitu zona berbahaya. Dan jika mau flashback ke
tahun 2010, korban meninggal yg terkena “wedus gembel” karena tidak mau
mengungsi atau mengira kondisi sudah baik lalu kembali kerumahnya. Beberapa tak
sempat melarikan diri saat dikejar sang awan panas.
Di bulan kasih sayang
ini (katanya beberapa orang sih), kembali di perhadapkan dengan fenomena alam
yg cukup mencekam. Setelah kurang lebih 1 bulan berkutat dengan air yang
menggenang kini saat nya abu vulkanik yang menemani keseharian. Tepat semalam
pukul 22.50 (kurang lebih) Gunung Kelud di Kediri Jawa Barat meletus. Cukup mengagetkan
karena suara dentuman yg hebat dan gempa nya terasa hingga Solo Jawa Tengah. Pagi
ini abu vulkanik nya cukup membuat 7 bandara di tutup dan jarak pandang
kendaraan bermotor hanya 5 meter di beberapa daerah khususnya area sekitar Solo
dan Yogyakarta.
Semalam sempat
kontak dengan salah satu kakak di sana. Hanya pesan singkat saja “disini udah
nggak karuan,hujan batu” itu sudah cukup menggambarkan kondisi Kediri yang ada
di kaki Gunung Kelud semalam seperti apa. Betapa panik dan bingungnya
masyarakat sana. Beberapa juga tentu kaget karena kejadian di tengah malam,
saatnya orang istirahat. Respon yang wajar terjadi saat menghadapi bencana. Ketakutan
dan kecemasan itu tentu selalu ada. Jauh – jauh hari memang sudah di sampaikan
tentang status bencana yang akan terjadi di sekitar area Gunung Kelud. Warga juga
sudah disiapkan secara akomodasi, transportasi bahkan jalur evakuasi.
Seperti petang
itu, 4 November 2010 suatu kesempatan yang sungguh luar biasa. Bisa menjadi
bagian dari tim relawan Merapi. 21 orang mahasiswa dengan 3 orang dosen,
tepisah di beberapa posko pengungsian. Dari yang berjarak 8 km dari puncak
Merapi hingga 25 km dari puncak merapi. Semua berjalan biasa saja, memberikan
obat, membantu dapur umum dan mendistribusikan bantuan. Sampai akhirnya Merapi
meletus. Gempa yang cukup besar terasa, diikuti tremor2 kecil semalaman. Hujan batu
kerikil sudah tidak bisa terhindari. Pukul 20.00 WIB sirine berbunyi dimana –
dimana, listrik padam, semua orang berusaha menyelamatkan diri. Hanya ada kat
aberserah kala itu, karena kalo memang harus berpulang mungkin itu cara terbaik
berpulang dalam keadaan memberikan pelayanan pada sesama.
Bahkan perjalanan
menuju ke area pengungsian sudah diwarnai rasa khawatir yang luar biasa. Memasuki
kota Magelang kala itu, semua penuh abu vulkanik. Dimana – mana hanya terlihat
debu yang menempel. Hampir tidak ada tnada – tanda kehidupan. Magelang kala itu
bak kota mati. Hujan yang turun pun bukan air, karena begitu pekatnya material
yang ada di atas sana hujan yang turun adalah hujan lumpur. Air yang menetes
berwarna hitam kecoklatan. Khas warna abu yang terkena air. Dan siang ini hal
serupa kembali berulang. Serasa seperti di kembalikan pada ingatan kala itu.
Abu vulkanik Gunung
Kelud yang menyebar ke bagian barat dan utara ini saya rasa cukup adil. Tuhan
mengajarkan kita untuk ikut peduli, ikut merasakan beban yang melanda saudara –
saudara kita yang ada di lereng Gunung Kelud. Langit yang seolah murung, tak
menampakan keceriaan akhir musim penghujan ini juga membuat rasa cemas dan was –
was menyebar hampir diseluruh plosok pulau Jawa. Seharian ini berjalan bersama abu vulkanik,
merelakan kendaraan yang kita pakai menjadi kotor dan memakai masker saat
keluar ruangan. Peringatan yang cukup menohok karena mungkin Tuhan sudah mulai
bosan dengan ucapan ampun kita namun tidak ada perubahan.
Suka atau tidak
suka, siap atau tidak siap sebagai warna negara dengan gugusan gunung api
terbanyak di dunia kita harus siap behadapan dengan abu vulkanik. Mengerti bahwa
semua ada dalam kuasaNya. Abu tersebut bisa terbawa ke kota lain yang bermil –
mil jauhnya. Abu tersebut juga mampu melmpuhkan perekonomian setempat. Bahkan transportasi
terganggu dengan kondisi tersebut. Sinyal telepon seluler dan listrik pun
terbatas. Lihat, kemegahan yang kita bangun (walaupun dengan uang utang ke IMF)
semua bisa lenyap begitu saja dalam murka Nya.
Lalu masih
bisakan=h kita menyombongkan diri? Dan masih bisakah kita dengan congkak
memamerkan harta dan semua hal yang kita miliki. Bencana seperi ini seharusnya
membuat kita lebih mawas diri. Menyadari kekurangan diri dan selalu berserah
pada Kuasa yang Maha Suci. Tuhan juga ingin kita lebih peduli, tidak terkotak
dalam titik nyaman kita sendiri. Mencoba melhat keluar memperhatikan sesame yang
membutuhkan. Dan seahrusnya itu kita kerjakan bukan hanya setelah ada bencana
besar macam ini. Seharusnya itulah gaya hidup kita.
Kepedulian dan
kepekaan akan kondisi sesame memang membutuhkan tenaga ekstra. Namun mempercayai
bahwa sumber dari segala sumber tenaga menyertai keseharian kita. Tidak ada
lagi alasan untuk eksklusif dan hedonis lagi. Mungkin anak – anak gaul sekarang
menyebutnya selfie. Kita yang memiliki kepedulian dan kepekaan ini akan sangat
berarti bagi mereka yang merasa takut dan sendirian. Sudah seharusnya kita
mampu melangkah melewati hari bersama Abu Vulkanik. Tidak perlu takut ataupun
gentar karena perlindungan Tuhan itu nyata. Dan dengan saling peduli kita dapat
saling menanggung beban saudara – saudara kita.
Kamis, 16 Januari 2014
BPJS, yang MURAH tapi belum tentu AMAN
Baru kurang lebih 2 minggu atau 15 hari mulai
diberlakukan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) atau orang – orang lebih senang menyebut BPJS
(Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Ini mungkin menjadi angin semilir bagi
para buruh yang pada masa sebelumnya ikut JAMSOSTEK (Jaminan Sosial Tenaga
Kerja) namun tidak diikutkan dalam jaminan kesehatan. Mengingat program
JAMSOSTEK ini punya 4 item (jaminan kesehatan, jaminan kematian, jaminan hari
tua dan jaminan kecelakaan kerja). Biasanya para pengusaha untuk menghindari
potongan yang terlalu tinggi hanya mengikutkan dalam 3 program saja. Sehingga kesehatan
para karyawan (buruh) tidak tercover dengan baik.
Lepas dari tuntutan para buruh, program pemerintah
ini (JKN) menyisakan banyak masalah dan pro – kontra. Selain program ini belum
jelas bagaimana sistem pembayarannya. Pergantian sistem dari ASKES ke JKN ini
lebih rumit dalam prosedur pelaksanaannya. Banyak pihak medis yang berkeluh
kesah atas diberlakukannya program ini. Sistem rujukan dan dokter keluarga
serta panjangnya antrian saat mendaftar membuat bukan hanya para pekerja di
dunia kesehatan namun juga pasien harus bekerja keras.
Pihak rumah sakit khususnya swasta, mengakali
program ini dengan pembatasan bed untuk pasien dengan JKN. Sehingga masih ada
bed untuk pasien umum yang membayar penuh. Tujuannya agar tetap ada perputaran
uang dan menghindari rugi yang terlalu tinggi. Kondisi ini juga masih
menyisakan banyak pertanyaan.perpindahan dari sistem lama dimana kita mengenal
beberapa jaminan kesehatan milik pemerintah seperti ASKES, JAMKESMAS, JAMKESDA
maupun JAMPERSAL untuk ibu hamil ke JKN dengan berbagai kebijakannya seolah
memihak masyarakat. Namun dalam sisi lain juga memberatkan masyarakat. Dulu PNS
yang ikut ASKES bila dirawat di RS seumpama jatah kamarnya kelas 2 lalu yang
bersangkutan menginginkan naik ke kelas 1. Maka dia hanya cukup membayar sisa
biaya dari total biaya yang di tanggung oleh ASKES. Namun sekarang, bila yang
bersangkutan menghendaki naik kelas ke kelas 1, maka JKN nya dianggap tidak
ada. Dia harus membayar penuh biaya kelas 1.
Dan untuk waktu dekat ini, sistem yang akan dirubah
ke JKN adalah ASKES terlebih dahulu. Sehingga semua PNS akan memakai JKN. Untuk
JKN pengganti JAMKESMAS dan sejenisnya masih dalam proses penyesuaian sistem. Sehingga
mungkin untuk 3 bulan hingga waktu yang belum bisa ditentukan masyarakat tidak
mampu yang dulu bisa gratis berobat ke PUSKESMAS bahkan sampai ke RS. Dari yang
Cuma batuk pilek sampai dengan yang harus operasi, cuci darah bahkan
kemoterapi. Sementara ini harus masuk sebagai pasien pribadi. Hal ini juga
terjadi pada pasien JAMPERSAL, pasien – pasien dengan kondisi hamil.
Sebelum tahun 2014 ini diberlakukan JAMPERSAL atau
jaminan pelayanan ibu bersalin. Sama hal nya dengan nasib teman – teman nya
yang lain dalam rangka penetapan JKN bagi seluruh rakyat Indonesia maka
JAMPERSAL untuk sementara di hilangkan sampai sistem JKN berjalan seperti yang
direncanakan. Malangnya ibu – ibu bersalin dengan biaya minimal namun harus
mendapatkan pelayanan maksimal karena berkaitan dengan kondisi kesehatannya
tidak dapat ditunda hingga sistem JKN ini siap. Dan kondisi ini nyatanya
dialami oleh seorang ibu di kota Semarang.
Seorang ibu yang hamil dengan kondisi berisiko, pre
– eklamsi ini harus mengalami ditolak beberapa RS dulu sebelum akhirnya ditolong
di salah RS swasta dengan alasan kemanusiaan. Ya, pre-eklamsi adalah suatu
kondisi medis yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (di atas 140/90mmHg)
dan jumlah protein yang abnormal dalam urin (proteinuria) setelah 20 minggu
kehamilan pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah yang normal. Penyebab
pastinya tidak diketahui pada kebanyakan kasus pre-eklamsi tetapi
faktor-faktor, seperti kehamilan ganda, diabetes dan obesitas diketahui
meningkatkan resiko terkenanya kondisi ini sewaktu kehamilan. Ketika pre-eklamsi
berkembang, hal ini dapat menimbulkan retensi cairan, menyebabkan pembengkakan
kaki, pergelangan kaki dan wajah. Gejala, seperti sakit kepala yang berat,
perubahan penglihatan dan muntah dapat timbul. Pre-eklamsi ringan biasanya
diawasi secara hati-hati tanpa suatu pengobatan dan akan menghilang setelah
melahirkan. Namun, wanita dengan pre-eklamsi sedang atau berat memerlukan
persalinan segera untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa, seperti
eklamsi (kejang pada wanita hamil) dan solusio plasenta, suatu keadaan yang
ditandai dengan terlepasnya plasenta dari dinding rahim, yang menyebabkan
perdarahan berat yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi. Pre-eklamsi juga dapat
menghambat pertumbuhan janin di dalam kandungan. Pada kasus-kasus dimana
kehamilan terlalu berbahaya untuk menginduksi kelahiran sang bayi, obat-obatan
seperti antihipertensi dan kortikosteroid dapat diberikan untuk mengatasi
gejala dan mempertahankan kehamilan sampai usia bayi cukup untuk induksi
persalinan.
Sesuai kondisinya sang ibu harus menjalani
persalinan dengan tindakan operasi sesar. Saat tiba di RS pemerintah sebagai
pusat rujukan ibu itu tidak dapat masuk karena kapasitas di RS tersebut sudah
full. Sudah bukan rahasia lagi untuk RS rujukan pemerintah ini, meski JKN masih
dalam proses namun RS ini tetap kebanjiran pasien. Bahkan pasien sampai harus
ada yang mengantri hingga 3 hari untuk bisa mendapatkan ruangan inap. Jadi penolakan
itu tidak tanpa alasan, daripada sang ibu terkotang – katung nasibnya bukankah
lebih baik RS pemerintah ini memberikan pilihan lain untuk ibu ini dirujuk ke
RS swasta yang memiliki kuota JKN juga. Lalu ibu ini menuju RS swasta A, dan
ternyata di RS swasta A ibu ini juga ditolak dengan alasan bahwa di RS ini
ruang untuk ibu bersalin dengan JKN belum tersedia. Ibu ini bisa masuk sebagai
pasien umum. Melihat kondisi keuangan dan biaya yang ditawarkan, jelas ibu ini
mundur teratur.
Coba menuju RS swasta B, dan dengan alasan lain ibu
ini tetap mendapatkan jawaban yang sama. Tidak bisa dirawat di RS tersebut. Akhirnya
di RS swasta C, mengingat kondisi ibu yang sudah semakin melemah disertai
resiko lain maka RS ini menerima ibu tersebut. Sejenak mengabaikan prosedur JKN
apakah nantinya tagihan ibu ini akan dibayar oleh negara maupun resiko
kerugian. RS swasta C ini berani mempertruhkannya demi alasan kemanusiaan. Saya
sengaja tidak menyebut nama RS nya, hal ini untuk menghindari konflik. Namun bagian
JKN yang sedang kita bahas ini seharusnya menjadi renungan untuk kita. Jika sistem
yag belum siap tetap dipaksakan, berapa banyak orang miskin yang sedang sakit
harus terkatung – katung seperti kisah ibu tadi.
Masih banyak pro dan kontra lain yang terjadi di
luar sana. Termasuk pemeriksaan medis yang tidak sesuai indikasi maka tidak
akan dibayarkan. Lalu bagaimana dengan hal tersebut. Bila kita masuk ke ruang
Gawat Darurat atau UGD maka sering kita lihat pasien masuk langsung di infuse,
di beri oksigen, direkam jantung (EKG), diambil darah untuk diperiksa
laboratoriumnya. Dan jika nanti saat diperiksa tidak ada kelainan, maka
pemeriksaan yang telah dilakukan itu tidak akan dibayar oleh pemerintah. Padahal
kita tahu bahwa ketika dokter harus menegakan diagnosa pada pasien ada banyak
pemeriksaan yang dijalani. Ini menjadi warning
alert tesendiri bagi pihak RS.
Beda RS beda pula denga PUSKESMAS, jasa pelayanan
dokter umum di PUSKESMAS hanya 2000 rupiah saja yang akan dibayar oleh
pemerintah. Belum lagi untuk pemeriksaan dan pengobatan yang IUR
(pembayarannya) juga belum jelas prosedurnya. Akhirnya meski JKN ini sudah
ditetapkan dan sudah berjalan namun masih butuh banyak perbaikan. Jangan sampai
pengobatan murah yang pemerintah siapan untuk masyarakat malah menjadi
pengobatan yang tidak aman. Karena demi mempertahankan biaya yang murah semua
alat, fasilitas dan obat – obatan dibatasi. Sehingga rentang waktu kesembuhan
juga semakin panjang.
Sabtu, 04 Januari 2014
Reflection
Serasa seperti membuka kembali
lembaran buku harian baru ketika melangkah melawati tahun 2013. Banyak kisah
dan kasih yang terbesit dalam perjalan 365 hari ini. Bukan hanya kisah – kisah
mellow drama ala sinetron Indonesia. Atau malah kisah horror yang berujung pada
kisah sensual para pemainnya. Kisah ini tentang kehidupan real dan nyata hal
yang kita alami sehari – sehari yang sering tidak kita sadari atau malah
cenderung kita abaikan. Mengakhiri tahun 2013 dan mengawali tahun 2014 merupakan salah satu moment dimana kita bisa
merefleksi dan merasakan betapa luar biasanya Tuhan meciptakan kita di dunia
ini.
Melihat tahun 2013 rasanya tidak
ada bedanya dengan tahun – tahun lainnya. Aku lebih suka mengamati dari sisi
yang berbeda sehingga aku dapat melihat dan merasakan hal – hal yang mungkin
terlewatkan. Memasuki tahun 2013 aku dipaksa untuk masuk dalam lingkungan baru,
dengan tanggung jawab dan tugas baru. Meski sebenarnya aku merasa sama saja,
yah karena harus kembali masuk rumah sakit tempat yang biasa aku datangi untuk
melaksanakan praktek klinik. Tapi kini aku bukan lagi seorang mahasiswa
praktik. Aku seorang karyawan sekarang, yap aku sudah bekerja.
Masuk dunia baru, bertemu dengan
orang – orang baru, berpapasan dnegan aturan – aturan baru. Jadi ingat “dimana
bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Dimana kita berada kita harus
menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku di tempat itu. Mungkin sebagian
dari kita mengalami ini di tahun 2013 lalu, masuk di lingkungan baru dan harus
beradapatasi. Menyesuaikan diri dengan lingkungan ternyata tidak semudah aku
menghafal materi IPA jaman SD dulu tentang bagaiman bunglon menyesuaikan diri
dengan lingkungan atau bagaimana putri malu menyesuaikan diri saat di sentuh.
Sungguh itu adalah hal yang menyita waktu dan tenaga.
Tidak ada dan tidak pernah ada
standart pasti norma yang berlaku di lingkungan baru. Rule yang paling aman
adalah mengikuti standart norma yang sudah diajarkan jaman sekolah dulu. Itu
pikirku dulu, setelah bertemu dengan banyak orang ternyata standart norma
setiap orang itu berbeda. Ada beberapa orang yang tidak begitu peduli dengan
sopan santun kita. Sebagian lain sangat sensitive pada hal – hal kecil dan
menganggap itu melecehkan padahal kadang itu keluar begitu saja sebagai respon
spontan atas suatu sikap maupun percakapan. Ada bahkan yang dimuka nampak biasa
saja namun di belakang mencibir kesana kemari. Yah, itulah dunia.
Masuk ke lingkungan baru itu
artinya berpisah dengan lingkungan atau orang – orang yang sudah lama bergaul
dengan kita. Sejujurnya itu juga menekan karena kehilangan sosok yang sudah
mengenal kita dan mau menerima kita satu paket. Paket hemat, layakanya di food
court bayar cukup 15.000 sudah dapat nasi, ayam goreng, sambal dan lalapan plus
minuman tinggal milih mau air mineral atau teh manis. Sama seperti menjalin
relasi dengan orang lain, mau tidak mau kita akan mendapatkan tawa nya, tangis
nya, senyum nya, marah nya, pengertiannya bahkan keegoisannya. Dan kehilangan
orang – orang itu memaksa kita dari awal lagi membangun relasi. Ada yang
membangun dengan janji, membangun dengan ketulusan, membangun dengan peraturan,
membangun dengan kebutuhan yang lebih parah ada yang membangun relasinya dengan
kemunafikan.
Menilik kembali ke diri, dan pada
akhir tahun ini diperadapkan pada pilihan untuk move on dan mencapai mimpi. Atau
stay dengan kondisi yang ada dengan lingkungan yang lebih mendukung stagnasi
namun semua terkendali. Ketimbang memperjuangkan perubahan dan gambling
mengusahakan sesuatu yg lebih baik. Kondisi seperti ini lah yang menekan diri
secara pribadi. Untuk sementara mengabaikan sekitar dan fokus pada diri sendiri
yang sudah mulai terkontaminasi. Dengan gaya hidup yang lebih suka mencari aman
ketimbang berani berpetualang.
Hal seperti inilah yang sering kita
alami ketika kita mulai memasuki dunia kerja. Jaman kuliah menjadi aktivis yang
lantang menyerukan perubahan namun ketika sudah mulai bekerja dengan berbagai
pertimbangan termasuk adanya SP (surat peringatan) dan sanksi – sanksi lain
kita jadi lebih memilih untuk diam dan membiarkan kondisi yang tidak sesuai
dengan idielisme kita berlangsung di depan mata kita. Yah, seolah kita tutup
mata. Kita hanya bisa melakukan 2 hal jika sudah terlanjur terseret ke dunia
ini. Diam, pura – pura tidak tahu karena bertentangan dengan ideal kita, namun
tidak melakukan apa – apa. Atau justru ikut terjun ke dalamnya dan mengikuti
arus yang ada.
Sehingga tidak salah bila putra – putri
terbaik bangsa lebih memilih untuk berprestasi di luar negeri. Dengan alih –
alih go internasional atau dengan
penghasilan yang lebih. Nyatanya idealisme mereka lebih dihargai di sana
ketimbang di negerinya sendiri. Yang penuh loby – loby dan berbagai birokrasi
yang berbelit. Kondisi lain yang tidak kalah membuat satu dilema adalah adanya
cibiran dari orang – orang sekitar. Dan justru yang mencibir adalah orang –
orang yang memiliki latar belakang sama khususnya dalam dunia pekerjaan. Bagi mereka
yang tergolong orang cuek mungkin tidak begitu bermasalah. Namun bagi mereka
yang tergolong para pemikir maka hal tersebut akan menjadi suatu pemikiran yang
berat. Tentunya karena akan berhubungan dengan perasaan diterima di komunitasnya.
Meghadapai hal seperti ini, bila
kita tidka membuka relasi lain untuk diri kita maka tinggal tunggu waktu saja. Kita
akan menjadi pribadi yang stagnan dan tidak beranjak dari titik nyaman kita
atau malah kita menjadi pribadi yang berambisi namun menghalalkan segala cara. Tetap
tinggal atau resign dari area pekerjaan seperti itu menjadi pilihan yang cukup
berat. Namun bila tidak dimulai dari diri sendiri maka di lokasi kerja manapun
akan tetap mengalami kondisi demikian. Mencari cara menikmati dan tetap
memiliki komunitas yang se-visi membuat hidup kita dalam rutinitas pekerjaan
menjadi tidak membosankan. Mendapatkan teman berbagi dan teman yang setia
mengoreksi kinerja kita dengan jujur dan tanpa keinginan untuk meyenangkan
hati.
Apapun bentuk komunitas itu, dimana
disana kita bebas menjadi diri sendiri. Tidak terhalang dengan peraturan dan
sanksi. Kita bebas mengembangkan diri dan mencapai apa yang kita ingini. Dengan
adanya kebebasan jiwa meski berada di area yang penuh tikung menikung atau gencet
mengencet kita bisa tetap stay firm. Tetap
kuat dan bersemangat mengerjakan tanggung jawab kita. Because profesion not only occupation but also passion.
Selasa, 24 Desember 2013
Save Our Body
Well guys…
belakangan ini saya merasa prihatin dengan sikap dan prilaku sebagian atau
malah kebanyakan orang. Manusia itu diciptakan sebagai mahkluk yang paling
sempurna. Jadi sebenarnya apapun bentuk tubuh kita, ada tidaknya kelainan atau
pun cacat kita diciptakan dengan sempurna. Itu artinya kita harus mensyukuri
tubuh yang Tuhan berikan. Dan menurut hemat saya caranya sungguh mudah , yaitu
dengan menjaga tubuh ini tetap sehat.
Polisi sedang
gencar melalukan rasia terutama polentas. Bagi para pengendara kendaraan
khususnya roda dua diwajibkan menyalakan lampu utama baik pagi, siang, sore
maupun malam hari, menggunakan spion standart, membawa surat – surat yang
lengkap dan memakai helm SNI. Banyak teman maupun tetangga saya sering bilang “ayo
pake helm, nanti kena tilang polisi lho”. Padahal helm selain untuk mencegah
cidera pada area kepala kita juga berguna untuk menjaga kesehatan di area
kepala. Helm ini menjaga agar kepala kita tidak langsung berbenturan dengan
angin terutama saat kendaraan yang kita naiki melaju dengan kencang. Karena benturan
angin yang kencang secara terus menerus pada wajah akan menyebabkan beel palsy
atau semacam rasa baal, kebas dan tebal pada muka efek jangka panjangnya adalah
kelumpuhan syaraf perifer di wajah kita. Pada mata kan menyababkan pandangan
kabur dan ketulian pada telinga. Belum lagi kalau kita nggak pake helm sambil
ngobrol terus ada entah lebah, belalang atau kumbang bisa saja masuk ke dalam
mulut kita. Beuh, tambah vitamin aja nie.
Bulan desember,
kata orang jawa ini adalah bulan “geDE – gede ning SuMBER”. Dan memang benar
sumber air alias hujan memang sedang gede – gedenya. Buat pengusaha laundry
bulan – bulan seperti ini adalah bulan berkah. Karena banyak cucian nggak
kering, jadi banyak orang yang memilih melaundry kan bajunya. Dan jadi bulan
yang penuh rejeki buat penjual jas hujan. Kenapa tidak, bagi mereka yang biasa
beraktivitas dengan kendaraan roda dua pasti jas hujan menjadi penolong saat
harus menerobos jalan dengan air yang terus menerus mengguyur. Tapi sebagian
orang, biasanya anak remaja sih lebih senang naik montor sambil hujan – hujanan
jadi lebih dramatis. Apalagi bagi mereka yang sedang memadu kasih, boncengan
bersama saat hujan itu romantis katanya.
Kemarin sore,
cuaca di kota tempat ku tinggal cukup dingin. Dari pagi tidak ada cahaya
matahari, mendung menggantung mewarnai hari. Pada waktu pulang dan beranjak
menjemput ibu ke tempat kerjanya langit makin suram saja. Baru masuk pintu parker
air hujan sudah menetes, pelan – pelan dan semakin sering. Langsung tancap gas
sampai di depan jalan yang pemiliki kanopi,biasanya disana aku menjemput ibu. Begitu
ibu menghampiriku tanpa tunggu komando aku langsung membuka bagasi dan
mengeluarkan 2 stel jas hujan, untuk ku dan ibu. Hujan makin deras, namun
mengingat hari yang makin sore kami terobos hujan. Tapi bukan itu masalah
utamanya sobat – sobat sekalian.
Saat kami
melintasi jalan montor kami disalip oleh orang yang berboncengan naik Honda CBR
warna merah. Mereka pakai helm, namun tidak memakai jaket apalagi jas hujan. Mereka
melaju di depanku dan satu hal yang menarik pandanganku. Sang pemboceng adalah
cewek mungkin usianya 20 tahunnya. Dengan rambut berwarna coklat semu kemerahan
yang dibiarkan terurai bebas. Dia memakai blazer hitam namun sepertinya dia
tidak memakai dalaman. Tubuhnya langsing, namun karena model blazer dan montor
yang dinaiki jok nya nungging alias meninggi kebelakang ditambah angin yang
bertiup kencang membuat bagian belakang bajunya membuka. Kalau dalam bahasa
jawa “ nyingkap” sehingga dari atas pantat sampai hamper setengah punggungnya
terekspose.
![]() |
| kira - kira boncengannya kayak gini |
Lumayan lah,
jadi obat ngantuk untuk para pengendara lain dibelakangnya. Toh, kulit si cewek
ini putih mulus. Namun pada waktu itu hujan cukup deras, saya justru kasian
padanya. Mungkin memang belazer yang dia pakai sedang trend. Beberapa waktu
sebelumnya saya sering liat blazer model seperti itu dijajakan di lapak on-line
shop dengan trade mark “blazer korea”. Tidak kalah dengan sang cewek cowok yang
memboncengkan hanya memakai kaos dan celana pendek jeans. Mungkin menurut
mereka dandanan mereka gaya, dengan body tubuh yang demikian serta montor yang
keren. Hal tersebut malah membuat saya iba, dengan tubuh yang baik yang Tuhan
beri kenapa tidak mereka jaga.
Saya yang naik
montor, sudah pake jaket kulit, celana jenas panjang dan di rangkap dengan jas
hujan personal (setelan jas hujan baju dan celana) saja masih merasakan dingin.
Sampai rumah langsung ganti baju dan mencari air hangat. Untuk menghangatkan
badan, lalu bagaimana dengan mereka. Dan saya bisa pastikan mereka tidak melaju
dengan pelan. Saya saja ada dibelakang
mereka dengan kecepatan 70 km/jam. Bisa dibayangkan seberapa besar tekanan
angin dan air hujan yang langsung mengenai tubuh mereka (ingat pelajaran fisika
jaman SMP dulu). Ketika hujan dan kita malaju dengan kencang, bukankah air
hujan yang jatuh mengenai tubuh kita jadi terasa perih, seperti dilempar
kerikil – kerikil kecil ke tubuh. Itu yang saya rasakan ketika menerobos hujan,
dan air hujan mengenai punggung telapak tangan saya.
So, guys…
mensyukuri tubuh yang Tuhan beri bukan hanya dengan memuji atau menunjukan
keindahannya saja. Menjaganya adalah hal yang lebih penting untuk kita lakukan.
Karena dengan menjaga tubuh ini tetap sehat maka kita juga dapat menggunakan
tubuh ini untuk berbuat banyak manfaat bagi sesame.
Semarang, 25 Desember
2013
Langganan:
Postingan (Atom)

